
Tentang Program
Sebagian besar pekerja sampah informal atau pemulung bergantung pada pendapatan harian yang tidak menentu. Untuk membantu memperkuat ketahanan ekonomi mereka, Mahija mendorong terciptanya sumber penghidupan tambahan melalui kegiatan produktif berbasis komunitas.
Program ini membuka ruang bagi pemulung dan keluarga mereka untuk mempelajari keterampilan baru di luar aktivitas memulung. Selain menambah peluang penghasilan, pendekatan ini juga bertujuan membangun kepercayaan diri, kemandirian, serta ketahanan penghidupan dalam jangka panjang.
Selain pengembangan keterampilan ekonomi, Mahija juga melihat bahwa penguatan kapasitas dasar, seperti kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan pengelolaan keuangan, merupakan pondasi penting agar komunitas pemulung dapat berkembang secara lebih berkelanjutan. Karena itu, program ini turut dilengkapi dengan kegiatan peningkatan kapasitas individu dan keluarga.
Beberapa kegiatan yang telah berjalan meliputi:
- Kerajinan eceng gondok untuk membuka peluang usaha berbasis keterampilan menganyam.
- Budidaya maggot sebagai alternatif pengelolaan sampah organik sekaligus potensi tambahan pendapatan.
- Hidroponik skala komunitas untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
- Kelas Baca Tulis Hitung (calistung) anak guna memperkuat kemampuan dasar literasi dan numerasi sejak dini.
- Kelas calistung dewasa untuk membantu anggota komunitas yang belum memiliki kemampuan baca-tulis-hitung secara memadai.
- Edukasi literasi keuangan agar keluarga pekerja sampah lebih mampu mengelola pendapatan, menabung, dan merencanakan kebutuhan jangka panjang.
Melalui pendekatan yang terintegrasi antara peningkatan keterampilan ekonomi dan penguatan kapasitas dasar, Mahija berupaya memastikan bahwa komunitas tidak hanya memperoleh tambahan penghasilan, tetapi juga memiliki pondasi yang lebih kuat untuk tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.
Capaian Program

Cerita Dampak
Ibu Eli
Tanah Tinggi
Penerima Pelatihan Ibu Berdaya
Ibu Eli tinggal di sebuah kamar kos kecil di Tanah Tinggi, Johar Baru. Sehari-hari ia bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan sekitar Rp2.000.000 per bulan, meskipun tidak selalu pasti. Kondisi tersebut sering membuatnya harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membayar biaya tempat tinggal.
Melalui program Ibu Berdaya, Ibu Eli mengikuti pelatihan kerajinan anyaman eceng gondok yang difasilitasi oleh Mahija. Di awal, ia sempat merasa kesulitan mempelajari teknik anyaman yang membutuhkan ketelatenan. Namun seiring waktu, keterampilan itu mulai ia kuasai dan kini hasil anyamannya dapat dijual untuk menambah penghasilan.

Selain membantu ekonomi keluarga, pelatihan ini juga membuat Ibu Eli merasa lebih percaya diri karena memiliki keterampilan baru yang bisa terus ia kembangkan.
“Sekarang hasil anyaman bisa menambah penghasilan saya dan membantu kebutuhan sehari-hari serta bayar kos. Saya juga jadi lebih percaya diri karena punya keterampilan baru.”
Ibu Rusmini
Duren Sawit
Penerima Pelatihan Budidaya Maggot
Sebelumnya, Ibu Rusmini menghabiskan waktunya dengan memulung barang bekas untuk dijual kembali. Ia tinggal di kos kecil yang disediakan oleh bos lapak, dengan penghasilan sekitar Rp300.000 per bulan. Aktivitas memulung biasanya ia lakukan pada sore hingga malam hari, sehingga pagi hari sering kali tidak ada kegiatan produktif yang bisa menambah penghasilan.

Melalui pelatihan budidaya maggot dari Mahija, Ibu Rusmini mulai memanfaatkan waktu paginya untuk mengelola budidaya maggot bersama teman-teman kelompok tani (Poktan). Selain maggot, mereka juga mengembangkan budidaya ikan dan ayam sebagai bagian dari kegiatan tersebut.
Kini, kegiatan tersebut membuatnya merasa lebih produktif sekaligus membuka peluang untuk menambah penghasilan. Bagi Ibu Rusmini, pengalaman ini juga memberinya ruang untuk belajar dan berkembang bersama komunitas.
“Sekarang pagi hari saya gunakan untuk budidaya maggot bersama teman-teman. Saya jadi lebih produktif, punya keterampilan baru, dan ada tambahan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.”