
Yayasan Mahija Parahita Nusantara berkerja sama dengan Djamu dengan membentuk inisitatif baru terkait pengelolaan kemasan pasca konsumsi. Djamu merupakan social enterprise start up asal Australia yang memiliki fokus pada dampak lingkungan. Kolaborasi ini merupakan bentuk penguatan terhadap ekosistem ekonomi sirkular Indonesia.
“Mahija dan Djamu memiliki kesamaan visi terkait pengolahan kemasan pasca konsumsi dan pemberdayaan komunitas pejuang daur ulang. Hal ini tercermin pada salah satu pilar Mahija yakni ‘Empowered Waste Worker’,” kata Ketua Yayasan Mahija Ardhina Zaiza.
Baca juga: Edukasi Pemilahan Kemasan Pascakonsumsi Lewat Permainan Interaktif
Djamu memanfaatkan kemasanan pasca konsumsi, terutama tutup botol kemasan yang terbuat dari plastik high-density polyethelene (HDPE), yang diambil dari tempat pembuangan sampah dan jalanan. Mereka bekerja sama dengan komunitas pejuang daur ulang untuk mendapatkan tutup botol plastik HDPE.
Tutup botol tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi filamen atau benang yang dapat dianyam dan dibentuk menjadi berbagai varian tas. Satu anyaman tas membutuhkan sekitar 250 tutup botol plastik HDPE.
Pada momen pelatihan perdana, Djamu memberikan keterampilan menganyam kepada ya20 ibu-ibu komunitas pejuang daur ulang di kawasan Bintara Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat selama sebelas hari. Pelatihan dibagi menjadi dua kelompok untuk menjaga efektivitas pelatihan.
Baca juga: CCEP Indonesia Gandeng M Mart, Ajak Konsumen Pilah Sampah
“Rasanya seru banget ketika kita tahu tutup botol yang tadinya berserakan di jalanan, yang harganya tidak ternilai, ternyata bisa menjadi produk yang sangat bagus dan luar biasa,” kata warga Bintara Jaya Ria Ramadani.

Elizabeth McClean, pendiri Djamu, mengapresiasi proyek kolaboratif bersama Mahija. Selain mengurangi sampah plastik, memberikan keterampilan baru kepada komunitas pejuang daur ulang merupakan misi yang ingin digapai oleh Djamu.
“Kami sangat senang karena selama sepuluh hari terakhir telah bekerja bersama Mahija dan memberdayakan pekerja sampah informal di Bintara, Jawa Barat. 20 perempuan di komunitas ini menunjukkan keterampilan yang luar biasa karena telah menganyam eceng gondok sebelumnya,” ujar Elizabeth.