
Ekonomi sirkular hanya dapat berjalan dengan optimal melalui kolaborasi. Produsen menunjukkan komitmennya terhadap produk yang ia buat, industri retail memberikan edukasi seraya mengajak konsumen untuk turut memilah apa yang mereka konsumsi, dan masyarakat menyambut inisiatif tersebut dengan memproses hasil pilah dan berakhir pada pabrik pengolahan.
Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia, Mahija Parahita Nusantara, TPS-3R Desa Adat Seminyak, menggandeng M Mart, salah satu pelaku industri retail di Bali untuk menjadi bagian dari aksi kolaboratif. Kerja sama tersebut juga merupakan bentuk dukungan terhadap Pemerintah Provinsi Bali atas berbagai peraturan daerah terkait pengolah sampah.
“CCEP Indonesia dan M Mart memiliki tujuan yang sama terkait keberlanjutan. Tidak hanya dari sisi produsen tapi juga industri retail, kami berkolaborasi bagaimana mengurangi sampah di masyarakat,” kata Sustainability Commercial Manager CCEP I Komang Agus Arisudana di Learning Center TPS-3R Kabupaten Seminyak, Bali.
Regional Public Affairs Manager area East Java Armytanti Kasmito mengatakan, kolaborasi tersebut akan menjadi momentum baru guna meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pengolahan sampah di Bali. Menurutnya, peningkatan kesadaran ini penting mengingat Bali merupakan salah satu kiblat pariwisata dan ekonomi keberlanjutan. Selain itu, masyarakat adalah poin utama dalam sistem ekonomi sirukular. “Pemilahan sampah tidak hanya di rumah saja, tapi di mana pun mereka berada,” ujar Ari.

Kolaborasi diawali dengan pelatihan manajemen sampah pascakonsumsi oleh Mahija dan TPS-3R kepada 46 karyawan M Mart. Mereka juga mendapatkan informasi bagaimana kondisi pengolahan sampah di Bali serta melihat langsung proses pemilahan sampah di TPS-3R.
Proses pemilahan kemasan pascakonsumsi dimulai dengan penempatan kotak pilah di dua puluh gerai M Mart di Seminyak. Dalam kotak tersebut terdapat tiga kategori sampah, yakni sampah organik, tutup botol, botol PET dan kaleng. Jika kotak pilah sudah penuh, sampah yang telah terkumpul akan diangkut oleh tim TPS-3R untuk dipilah dan dikirim ke pabrik daur ulang.
Usai menyelesaikan proses transaksi, karyawan M Mart yang bertugas sebagai ‘Recycle Ranger’, akan memberikan edukasi pemilahan sampah dan mengajak pelanggan mereka turut terlibat memilah sampah pascakonsumsi. Pasalnya, kesadaran terkait pengelolaan sampah merupakan salah satu satu tantangan tersendiri yang dihadapi pegawai M Mart. “Walaupun sudah disediakan tempat sampah organik dan anorganik, mereka tetap mencampur sampahnya,” ujar Naren.
Sebelumnya, pengelolaan sampah pascakonsumsi di M Mart masih menggunakan cara konvensional. Sampah diambil oleh vendor lokal bersama sampah milik toko lain di sekitar M Mart. Terkadang sampah tak diambil pada waktu yang telah disepakati sehingga membuat kondisi gerai M Mart menjadi kotor.
Regional Manager M Mart Bali Siswandi mengapresiasi keterlibatan M Mart dalam Circularity Project bersama CCEP. Menurutnya, dalam proyek ini M Mart dapat memberikan edukasi memilah sampah yang menjadi salah satu masalah di Bali, serta menjadi toko retail pertama yang menerapkan program daur ulang melalui kotak pilah.
“Isu sampah menjadi salah satu concern utama pemerintah dan masyarakat Bali saat ini. Akan sangat menguntungkan buat M Mart, masyarakat, dan konsumen sehingga mereka paham bagaimana mengolah sampah daur ulang. Kami ingin menjadikan toko retail modern dengan kondisi yang bersih dan higienis.,” ujar Siswandi.